Tari Njipah Bawa Suluh Banua Tembus Panggung Nasional, Tradisi Dayak Deah Jadi Sorotan

BANJARMASIN, Borneo Chanel – Tradisi berburu masyarakat Suku Dayak Deah di Kabupaten Tabalong menjelma menjadi karya seni yang mengantarkan Sanggar Seni Suluh Banua, Desa Upau, meraih predikat Penyaji Terbaik Utama pada Festival Karya Tari Daerah (FKTD) 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui Tari Njipah, sebuah karya tari yang mengangkat kehidupan masyarakat Dayak Deah dan penggunaan alat jebak tradisional untuk menangkap hewan buruan di kawasan hutan.
FKTD 2026 diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel. Capaian Suluh Banua sekaligus membawa mereka terpilih sebagai wakil Kalimantan Selatan untuk tampil dalam Parade Tari Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada akhir Oktober 2026.
Menghidupkan Tradisi Berburu dalam Gerak Tari
Penata Tari Njipah, Budi Anugrah Sakti, mengatakan karya tersebut lahir dari kedekatan masyarakat adat Dayak Deah dengan hutan. Bagi masyarakat setempat, hutan bukan sekadar ruang untuk mencari penghidupan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan dan tradisi yang diwariskan.
Konsep tersebut kemudian diselaraskan dengan tema FKTD 2026, “Nafas Bumi dan Laut”, khususnya bagian “Nafas Bumi”.
“Jadi, kami mengangkat tarian yang berjudul Njipah. Njipah ini adalah alat jebak hewan buruan masyarakat Suku Dayak, yaitu untuk menjebak ‘wawuy’ atau babi hutan. Kami menyesuaikannya dengan tema tahun ini, yaitu ‘Nafas Bumi dan Laut’, dan mengambil bagian ‘Nafas Bumi’,” ujar Budi di Banjarmasin, Selasa (8/9/2026) malam.
Menurut Budi, proses penggarapan Tari Njipah dilakukan dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar tiga minggu.
Tahapan penggarapan baru dimulai setelah panitia memastikan tema festival. Tim kemudian melakukan penggalian informasi, mencari narasumber, hingga merumuskan konsep pertunjukan.
“Setelah tema keluar, baru kami mulai menggarap, mencari narasumber, dan menentukan hal-hal lainnya,” tuturnya.
Libatkan Wadian dan Pemburu Babi Hutan
Untuk menjaga agar karya yang ditampilkan tidak kehilangan akar budayanya, tim penggarap melibatkan dua narasumber yang memiliki pengetahuan langsung mengenai tradisi masyarakat Dayak Deah.
Keduanya yakni Srikandi, seorang Wadian atau tabib masyarakat Dayak Deah, serta Delis, seorang pemburu babi hutan yang hingga kini masih aktif menjalankan aktivitas tersebut.
Partner Budi dalam penggarapan Tari Njipah, Soraya, menjelaskan Srikandi menjadi sumber informasi dalam menggali ragam gerak yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Dayak Deah.
Sementara itu, Delis memberikan informasi mengenai alur cerita sekaligus gambaran aktivitas berburu babi hutan yang kemudian diterjemahkan ke dalam konsep pertunjukan.
“Narasumbernya ada dua. Untuk ragam gerak, kami mengambil sumber dari seorang Wadian masyarakat Dayak Deah, yaitu Kak Srikandi. Sedangkan untuk alur cerita dan penggambaran dalam penggarapan, kami mendapat sumber dari Om Delis yang merupakan pemburu langsung dan sampai sekarang masih aktif,” jelas Soraya.
Dari Upau Menuju Panggung Nasional
Keberhasilan Sanggar Seni Suluh Banua menjadi Penyaji Terbaik Utama FKTD 2026 tidak hanya menjadi pencapaian bagi kelompok seni tersebut.
Tari Njipah membawa cerita mengenai kehidupan masyarakat Dayak Deah di Tabalong keluar dari ruang budaya lokal menuju panggung yang lebih luas.
Melalui karya tersebut, tradisi, pengetahuan masyarakat adat, serta hubungan manusia dengan alam dikemas dalam bahasa seni yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat di tingkat nasional.
Terpilihnya Suluh Banua sebagai wakil Kalimantan Selatan untuk tampil pada Parade Tari Nusantara di TMII, Jakarta, pada akhir Oktober mendatang menjadi kesempatan berikutnya untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Selatan.
Tim penggarap berharap FKTD dapat terus digelar secara konsisten setiap tahun. Festival tersebut dinilai penting sebagai ruang bagi seniman daerah untuk berekspresi, mengembangkan karya, sekaligus menjaga keberlangsungan seni dan budaya Kalimantan Selatan.
Tari Njipah pun menjadi bukti bahwa tradisi yang tumbuh dari kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dapat diolah menjadi karya seni yang mampu melangkah hingga panggung nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *