BANJARBARU, borneochanel.com — Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, memasuki tahap pengembangan teknologi pemadaman. Polda Kalsel menguji penggunaan cairan berbasis surfaktan yang dirancang untuk membantu mempercepat pembasahan lahan gambut sekaligus menghemat penggunaan air.
Teknologi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran di lahan gambut memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran di permukaan tanah biasa. Api dapat bertahan dalam bentuk bara di bawah permukaan sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan yang lebih dalam.
Kapolda Kalsel Irjen Rosyanto Yudha Hermawan mengatakan cairan surfaktan telah diuji di sejumlah lokasi karhutla di Banjarbaru. Penggunaannya dipadukan dengan sistem pipa undercooling untuk membantu menjangkau bara yang berada di dalam tanah.
Menurut Yudha, hasil pengujian menunjukkan penggunaan cairan tersebut dapat membuat proses pemadaman lebih efisien, terutama dari sisi kebutuhan air.
“Air yang digunakan untuk pemadaman khususnya di lahan gambut ini bisa efisien, dan cairan yang kita gunakan ini juga lebih efisien,” ujar Yudha, Sabtu (5/9/2026).
Formula Disesuaikan dengan Karakter Gambut Kalsel
Cairan surfaktan yang digunakan awalnya dikembangkan di Jepang. Material tersebut kemudian diperoleh melalui bantuan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).
Setelah diterima, Polda Kalsel tidak langsung menggunakannya secara luas. Bidlabfor Polda Kalsel terlebih dahulu melakukan penguraian untuk mengetahui kandungan bahan serta karakteristik cairan tersebut.
Hasil kajian kemudian menjadi dasar pengembangan formula yang disesuaikan dengan kondisi lahan gambut di Kalimantan Selatan.
Proses pengujian dilakukan berulang kali hingga cairan dinilai mampu membantu proses pemadaman di lapangan. Produksinya pun mulai ditingkatkan mengikuti ketersediaan bahan baku.
Stok Cairan Pemadam Mulai Disiapkan
Polda Kalsel menyebut persediaan cairan berbasis surfaktan saat ini telah tersedia dalam jumlah yang cukup untuk mendukung penanganan karhutla.
Penggunaan teknologi tersebut juga telah diterapkan pada area yang lebih luas, termasuk kawasan Brimob.
“Kita sudah mengembangkan dalam jumlah yang cukup banyak. Kita sudah produksi, kita gunakan lapangan yang besar di Brimob,” kata Yudha.
Dengan kombinasi metode pemadaman konvensional dan teknologi tersebut, penanganan karhutla di Banjarbaru disebut semakin terkendali.
Meski demikian, penanganan kebakaran lahan gambut tetap membutuhkan pemantauan berkelanjutan karena bara di bawah permukaan dapat kembali memicu munculnya titik api.
Karhutla Banjarbaru Ditekan, Polda Kalsel Andalkan Surfaktan untuk Jinakkan Bara di Gambut

